Di awal semester 6, saya sudah memutuskan untuk berhenti dari kerja social (baca : berorganisasi). Saya akan memfokuskan diri untuk nyari uang, mengejar mimpi menonton konser arashi di singapura (itu pun kalau mereka terpilih di sistic) atau untuk hal-hal lainnya. Tapi, berhubung teman sekamar saya si Syilfi justru malah semakin eksis, saya pun rasanya tidak bisa kalau tidak berkegiatan, sia sia juga saya nge-kos. Lagipula, kata syilfi saya jgn langsung tidak berkegiatan, yang ada nanti malah kena shock-culture syndrome or mungkin lebih tepat shock-habit syndrome heheh..
biasanya sibuk langsung nggak sibuk, jd mending pelan pelan melepasnya, dengan mengikuti kegiatan tapi yang nggak terlalu menyita banyak waktu seperti bem.
datanglah sebuah tawaran untuk menjadi kepala divisi sebuah divisi baru di Himpunan mahasiswa jurusan saya, by the time I hear the division’s name, saya sebenernya bingung
Hmm, mau ngapain ya nantinya??
Terlebih lagi si oknum yang nawarin jabatan tersebut bahkan menyerahkan sepenuhnya konsep yang akan saya usung. Katanya dia percaya saja sama keputusan saya… hmm,dia rupanya nggak tau, saya ini sebenernya bukan konseptor tapi lebih ke eksekutor,pikiran saya kolot dan nggak bisa inisiatif. Dengan harapan besar saya bisa kasih kontribusi yang nyata buat hm lewat sistem yang berbeda, singkat kata saya akhirnya bergabung dengan HM. Awalnya saya niat sekali ingin kasih kontribusi buat HM, dan saya pun merasa nyaman sekali dengan lingkungan HM yang selalu santai,kekeluargaan dan bisa membuat saya tertawa. tapi kok lama-lama saya jadi males. Bahkan di saat-saat seperti ini, di awal kepengurusan saya sudah males. Alasannya simple, karena ternyata HM saya belum siap sama profesionalitas, yang sebenarnya ingin sekali saya tekankan. HM yang santai, ternyata terlalu santai. Sepertinya hampir semua orang beranggapan bahwa organisasi seperti HM adalah organisasi yang kecil jadi nggak perlu segala sesuatu yang sistematis, nggak perlu yang njelimet lah kurang lebih. Padahal selama ini setau saya, teman2 saya (yg sebagian besar sekarang ada di HM) dan saya sendiri kurang suka atau bahkan cenderung skeptic sama HM jurusan saya ya kurang lebih karena sistem mereka yang ‘kurang’ baik. Tapi kok sekarang pun kami masih belum ‘bergerak’ dari lingkar ke-‘kurang-baik-an’ sistem HM?? Memang sih semua butuh proses tapi ini, prosesnya bahkan nggak dimulai-mulai. Saya jadi kesal sendiri.
Bahkan biarpun mereka sebenarnya keluarga saya, saya kok malah malas ya ‘berkeluarga’ dengan lingkungan yang seperti itu? Hm hm hm..
Saya tidak ingin terkesan sok tahu atau menggurui, hanya saja menurut saya sistem organisasi yang buruk butuh diperbaiki melalui profesionalitas anggota-anggotanya. Saya mungkin lebih senang dan terbiasa dengan lingkungan yang sistematis, jadi kalau seperti saat ini, saya jadi malas dan pastinya malah akan skeptic. Hal ini pernah saya alami di BEM yang mengusung ‘kekeluargaan’ dan sebenarnya saya sangat tidak ingin hal ini terulang lagi. BEM, sebuah organisasi bergengsi (menurut saya) karena menjadi representative mahasiswa FISIP yang sangat majemuk tapi diisi oleh orang-orang yang tidak mau tahu caranya berorganisasi (tidak keseluruhan,tp mayoritas). Sama halnya dengan BEM, HM jurusan saya pun sepertinya mengusung nilai ‘kekeluargaan’, jadi sulit untuk menerapkan profesionalitas. Padahal menurut saya sebenarnya sebuah organisasi dapat menerapkan nilai kekeluargaan dan tetap diimbangi dengan profesionalitas anggota-anggotanya, seperti yang saya alami di BEM FISIP UI 2008.
Saya tidak bermaksud menyinggung, menghina, atau apa pun terhadap pihak tertentu. Ini hanya opini.
Semoga saya dapat membuat proses perubahan itu terjadi ^^
4.05.2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
2 komentar:
udah yun kudeta aja. trus bikin peraturan baru siapapun yang ga profesional wajib patungan buat bayarin lo ke jepang. ahahaha.
gaol banget lo yuun
hmm rtc kekeluargaan banget loh yun (dulu)
mau sebau bapuk apaan tuh tempat, tetep pada seneng bercokol disana. tapi kalo lagi rapat2 pleno bisa nyolot2an, abis itu selesai, baekan lagi, makan bareng lagi.. bisa aja kali yey kekeluargaan tapi bukan pas saat2 harus propesional. nyuhuuu
Post a Comment
kata komentator